Shalat Hajat Seorang Penuntut Ilmu
17 August 2011 Leave a Comment
Abu Al-Hasan As-Shaffar Al-Faqih berkata, “Suatu ketika, kami bersama
Al-Hasan bin Sufyan An-Naswi. Banyak orang-orang terhormat yang
mengunjunginya dari berbagai negeri yang jauh untuk mengikuti majelis
taklimnya, guna menuntut ilmu dan mencatat riwayat hadits. Suatu hari, ia
pergi menuju majelisnya, tempat ia menyampaikan riwayat-riwayat hadis, lalu
ia berkata, “Dengarkanlah apa yang akan aku sampaikan kepada kalian
sebelum kita memulai pelajaran. Kami memaklumi bahwa kalian adalah
sekelompok orang yang diberikan banyak kenikmatan dan termasuk orang-orang
yang terpandang. Kalian tinggalkan negeri kalian, berpisah dari kampung
halaman dan teman-teman, hanya demi menuntut ilmu dan mencatat riwayat
hadits.
Kalian tidak menyadari bahwa kalian telah menempuh semua
kesulitan ini demi ilmu, atau telah menanggung apa yang telah kalian
tanggung, yaitu berupa kesusahan dan kelelahan yang menjadi salah sat
konsekuensinya. Sesungguhnya aku ingin menceritakan kepada kalian sebagian
kesulitan yang aku alami dalam menuntut ilmu, serta bagaimana Allah SWT
memberikan jalan keluar untukku dan para sahabatku –dengan keberkahan
ilmu dan kemurnian aqidah– dari segala kesempitan dan kesulitan.
Ketahuilah, sejak muda aku telah meninggalkan kampung halaman untuk
menuntut ilmu dan mencatat riwayat hadits. Takdir membawaku sampai ke Maroko,
kemudian menuju Mesir, bersama tujuh orang sahabatku sesama penuntut
ilmu dan pendengar hadits. Kami lalu berguru kepada seorang guru, ulama
yang paling menonjol pada waktu itu. Paling banyak meriwayatkan hadits,
paling mengetahui sanad-sanadnya, dan paling otentik periwayatan
hadisnya. Ia menjelaskan hadis setiap hari sedikit demi sedikit, sehingga
memakan waktu yang cukup lama. Akibatnya, kami menjadi kehabisan bekal.
Kondisinya sampai memaksa kami untuk menjual barang-barang yang kami
bawa, berupa baju dan celana. Akhirnya, tidak ada lagi milik kami yang
tersisa untuk memperoleh biaya makan satu hari pun. Tiga hari tiga malam
kami lalui tanpa dapat mencicipi sesuatu apa pun. Sampai pada suatu pagi
di hari keempat , tak satu pun di antara kami yang dapat bergerak karena
kelaparan.
Kondisinya memaksa kami harus menahan rasa malu dan
mengorbankan muka kami untuk meminta-minta, padahal diri kami menolak dan hati
kami merasa keberatan. Setiap orang dari kami menolak melakukan hal
itu, namun situasi dan kondisinya benar-benar memaksa untuk
meminta-minta. Akhirnya, semuanya sepakat untuk menuliskan nama-nama kami di atas
sebuah kain dan meletakkannya di atas air, barangsiapa yang namanya
muncul ke permukaan, maka ia yang harus nbsp;pergi meminta dan mencari makanan
untuk dirinya serta sahabat-sahabatnya. Kain yang tertulis dengan namaku
kemudian muncul ke permukaan. Aku bingung dan terkejut, dalam hatiku
menolak untuk meminta-minta dan menanggung hina. Lalu, aku bergegas pergi
ke satu sudut masjid untuk melakukan shalat dua rakaat dalam waktu
cukup lama. Berdoa kepada Allah SWT dengan nama-nama-Nya yang Maha Agung
dan kalimat-kalimat-Nya yang Mahamulia, agar menghilangkan kesusahan ini
dan memberikan jalan keluarnya.
Belum selesai aku melakukan shalat,
seorang pemuda tampan tiba-tiba masuk ke dalam masjid dengan pakaian
bersih dan bau yang wangi, diikuti oleh seorang pengawal yang memegang
sebuah sapu tangan. Ia bertanya, “Siapa di antara kalian yang bernama
Al-Hasan bin Sufyan?” Aku mengangkat kepalaku dari sujudku, lalu
menjawab, “Aku Al-Hasan bin Sufyan, apa yang Anda inginkan?” Ia menjawab,
“Sesungguhnya sahabatku , Gubernur Ibnu Thulun menyampaikan salam
hormat dan permohonan maafnya atas kelalaiannya di dalam memberikan
perhatian mengenai kondisi kalian, juga atas kelalaian yang terjadi di dalam
memenuhi hak-hak kalian. Ia mengirimkan sejumlah bekal untuk hari ini.
Sedangkan besok, ia sendiri yang akan mengunjungi kalian untuk meminta
maaf secara langsung.” Pemuda tersebut memberikan di tanganku
masing-masing sebuah pundi berisi uang seratus dinar. Aku heran dan kebingungan.
Maka, aku berkata kepada pemuda tersebut, “Ada kisah apakah ;dibalik
ini semua?”
Ia berkata, “Aku adalah salah seorang pelayan khusus Gubernur Ibnu
Thulun. Pagi tadi, aku menemuinya bersama sejumlah sahabat yang lain,
lalu gubernur mengatakan kepadaku, “Hari ini aku ingin menyendiri, maka
pulanglah kalian ke rumah masing-masing!” Aku pun pulang bersama
yang lainnya. Sesampainya di rumah, belum sempat aku duduk, seorang utusan
gubernur mendatangiku dengan tergesa-gesa, memintaku untuk kembali.
Aku segera memenuhi panggilannya dan mendapatkan gubernur sedang berada
sendirian di rumahnya. Ia meletakkan tangan kanannya di atas
pinggangnya, menahan rasa sakit yang teramat sangat di dalam perutnya. Ia berkata
kepadaku, “Apakah engkau mengenal Al-Hasan bin Sufyan dan
sahabat-sahabatnya?”
Aku menjawab, “Tidak.”
Ia berkata lagi, “Pergilah ke sektor fulan dan masjid fulan, bawalah pundi-pundi ini dan serahkan
kepadanya dan para sahabatnya. Sudah tiga hari mereka kelaparan dengan
kondisi yang mengenaskan. Sampaikan permintaan maafku, dan katakan bahwa
besok pagi aku akan mengunjungi mereka untuk meminta maaf secara
langsung.” Pemuda itu berkata, “Aku menanyakan tentang sebab yang
membuatnya berbuat demikian, maka ia berkata,
‘Ketika aku masuk ke dalam
rumah ini sendiri untuk beristirahat sesaat, aku tertidur dan bermimpi
melihat seorang penunggang kuda sedang berlari di angkasa dengan begitu
stabilnya –seperti layaknya berlari di atas hamparan bumi– sambil
memegang sebilah tombak. Aku melihatnya sambil tercengang hingga ia turun di
depan pintu rumah ini, lalu meletakkan tombaknya di atas pinggangku,
dan berkata, ‘Bangun, dan temuilah Al-Hasan bin Sufyan dan para
sahabatnya.’ Bangun, dan temuilah mereka, sesungguhnya mereka kelaparan
sejak tiga hari yang lalu di masjid fulan!’ Aku bertanya,‘Siapakah
engkau?” Ia menjawab, ‘Aku Ridhwan, penjaga pintu surga.’ Semenjak
ia meletakkan ujung tombaknya di pinggangku, aku merasakan sakit yang
teramat sangat, membuatku tidak dapat bergerak. Maka, segeralah engkau
sampaikan uang ini kepada mereka, agar rasa sakit ini menghilang
dariku.” Al-Hasan berkata, “Kami tercengang mendengar kisah tersebut,
bersyukur kepada Allah SWT dan dapat memperbaiki kembali kondisi kami.
Namun, diri kami merasa tidak nyaman lagi untuk menetap di tempat itu. Agar
kami tidak dikunjungi oleh gubernur dan rahasia kami diketahui oleh
orang lain, sehingga menyembabkan melambungnya reputasi dan kedudukan
kami, dan semua itu akan menimbulkan sifat riya’. Maka, malam itu juga
kami meninggalkan Mesir. Dan, ternyata setiap orang dari kami menjadi
seorang tokoh ulama dan terpandang di zamannya. –Keesokan paginya,
Gubernur Ibnu Thulun datang ke tempat itu untuk mengunjungi kami, lalu
dikabarkan kepadanya mengenai kepergian kami. Kemudian, ia memerintahkan
untuk membeli pertokoan/pasar seluruhya dan mewakafkannya untuk kepentingan
masjid dan para perantau, orang-orang penting, dan para penuntut ilmu
sebagai bekal mereka, agar kebutuhan mereka tidak lagi terabaikan dan
tidak mengalami seperti yang kami alami. Semua itu disebabkan oleh
kekuatan agama, kebersihan aqidah dan Allah SWT Maha Pemberi Taufiq.”